Posts

Showing posts with the label the day

Aku Pengecut Atau Kau yang Permainkanku?

Aku pengecut Tak berani menyanjungmu kala itu Terkagum-kagum pada caramu berhadapan denganku Sementara aku, masih berkutat dengan debar jantung yang tak menentu Kau justru asik meminum kopi pesananmu Tapi tak apa Aku menikmati setiap gerakmu kala itu Sembari panjatkan doa agar waktu tak cepat berlalu Menikmati canda, tawa dan berbincang denganmu Garis senyummu membuat ragaku seakan runtuh Berulang kali kubangun lagi, meski kutahu kan runtuh kembali Hingga saatnya kau terpaku pada layar gawai di meja kita Akupun mulai tunduk tengadah kumenyesal karena tak bisa membangun suasana Denyut jantungku meningkat, deru semangat berpacu hingga tubuhku mulai berkeringat Memulai tindakan agar pertemuan ini dapat juga kau ingat Sebagaimana diriku serasa di balik awan Benar-benar serasa di atas awang-awang

Bandung Braga

Kupacu sepeda motorku Menuju Bandung dari Jakarta Dengan lisan yang diam tanpa kata Kuparkirkan sepeda motorku Dan kuberjalan di sepanjang Braga Tempat dimana romantismenya berbeda Bandung Kota yang membuat anganku tak terbendung Menjemput cita-cita yang sejatinya terkurung Bandung Bukan tempatku berlindung Tapi, aku merenung Dari rasa yang menghilang Atau entah telah berpulang Kumohon, jangan kembali datang

Untuk apa?

Hari ini, sebuah pertanyaan menghampiri tanpa permisi. Pernahkah kau terpikirkan jika manusia sekarang tak memiliki daya juang tinggi? Melainkan kepasrahan yang tinggi?

Tugasku Tidak Berat

Tepat pukul 04.00 WIB, telepon gengam Kak Hamdi berbunyi nyaring. Membangunkan Ayah, Ibu, juga aku, tapi tidak dengan sang tuan dari alarm tersebut. Lantas aku coba bangunkan Kak Hamdi yang masih tertidur menggunakan celana pendek dan telanjang dada, tapi tidak berhasil. Akhirnya, ada alarm alami yang ampuh membangunkannya, yaitu Ibu. Ibu hanya perlu berteriak memanggil namanya, lalu ia terbangun dan berteriak "Iya sudah bangun." Walau sudah bangun, jelas sekali ia masih mengantuk. Bagaimana tidak? Tugas kuliahnya baru selesai ia kerjakan pukul 02.30 dan sudah harus bangun pukul 04.00 untuk bersiap salat subuh. "Kenapa kamu liatin kakak begitu? Kakak ganteng ya abis bangun tidur? Haha", godanya. Akupun mengelak, "Idih ganteng apanya, muka kayak pantat panci aja sok ganteng, dasar jomblo. Haha. Eh tapi Kak, kenapa semenjak Kakak kuliah, tugasnya dikerjakan sampai larut malam?" tanyaku ingintahu. Karena bukan hanya sekali ia tidur menjelang subuh. ...

Jemput Impian

Image
Ingatkah kau kawan? Kita bersamasama tercemplung Plung... Basah, Kuyup, Tenggelam Namun, kau menghampiri Bukan sebagai pemadam Tetapi pembakar semangat Yang semakin berkobar Kita berenang menuju tujuan pertama Permukaan Tempat awal yang membuat kita tercemplung Tibalah di permukaan Setelah berenang Bak kecebong menuju permulaan menjadi mahkluk amfibi Lalu apa? Tanpa pikir panjang Kita terbang menjemput impian Namun, Sang guntur merobek sayapku Hingga aku terjatuh Hampir saja aku Menyentuh permukaan itu Kau menolongku tanpa ragu Membantuku Menjemput impian (Sumber foto: instagram.com/ardirusuk)

Ayah Bukan Pahlawan

Kau insan Yang bercengkerama dengan kehidupan Tanpa memikirkan kesehatan kau hisap tembakau Agar pikiranmu tak kacau Kau bukan pahlawan Yang menolong banyak orang Yang dikenal banyak insan Tapi kau selalu terkenang Oleh seseorang Bukan hanya keselematan Kau pun melindungi Jua menafkahi Sekali lagi, kau bukan pahlawan Bersanding dengan luka dan jalanan Kau junjung perjuangan Kau pikirkan masa depan Bibit yang kau besarkan Lelah, bukan masalah Pusing, sudah tujuh keliling Letih pun sudah tak berarti Ku hisap lagi tembakau Hingga kau tungkus lumus Tembakau, tetap mengepul dari mulutmu

Cerita dibalik lagu "Wake Me Up When September Ends"

Image
September, bulan kesembilan di kalender masehi ini akan segera berakhir. Lalu kenapa? Ada sebuah lagu yang sangat saya suka, yaitu “Wake Me Up When September Ends” dari band Green Day, yang beraliran alternative rock. Ada apa dengan lagu tersebut? Ada sebuah kisah yang tentunya menyedihkan. Tentang sebuah perpisahan dengan orang yang begitu disayangi oleh sang pencipta lagu, Billie Joe sekaligus vokalis band asal California tersebut. Lagu yang termasuk dalam album American Idiot ini mampu membuat penggemar musik aliran apapun ikut terhanyut saat mendengarkan lagu ini. Lagu yang tercatat telah terjual hingga 1.652.000 copy pada Mei 2010 . Lagu ini juga berhasil menempati posisi pertama di Canadian Singles Chart dan posisi kedua di World Chart Show. Hebat bukan? Lagu ini tercipta setelah 20 tahun ayahnya meninggal. Ayah Billie yang berprofesi sebagai supir truk dan bekerja sampingan sebagai musisi Jazz terkena penyakit kanker di kerongkongan yan...

Masih Sudikah?

Image
Aku terpaku melihat manusia Merana, menderita, tersiksa Sebab bumi telah dibodohi Diberi janji tanpa realisasi Manis mulut mahkluk berakal Seakan membela diriku Tapi nyantanya tetap menghunusku Mereka kuberi segalanya secara cuma-cuma Namun mereka mengehabisiku dengan sedikit sisa Gunung-gunung di tubuhku Menyimpan amarah yang masih terbendung Apa kau tahu wahai manusia? Atau kau mau tahu wahai manusia? Namun, Sudikah kau menerimanya ketika kuberitahu? Samudera biru di dalamnya kuberi jutaan mutiara Tapi apa? Kau rusak tanpa permisi Apakah aku hanya akan diam? Kuharap kau mengerti bila tsunami mulai menghampiri Jangan kau lari, kabur, dan jangan takut Sebab ini ulahmu sendiri Masihkah sudi tinggal bersamaku? Tolong... Jangan jadikan aku pemuas nafsumu Jangan jadikan aku pelepas dahagamu Tapi... Jadikan aku sahabatmu Saling memberi Untukmu dan untukku (Sumber foto: gambarjoss.blogspot.com)

Matamu

Image
Kubuka pintu Mataku tertuju pada hitam Hitam melingkar Begitu indah Menawan Menenangkan Hitam... Matamu... Bagai malam Kulihat jutaan bintang Namun, semua itu hilang Kau memalingkan haluan Sebuah keindahan yang mengagumkan Andai bisa kembali kudapatkan Kesempatan memandang Matamu.. (sumber foto: 1freewallpapers.com)

Angan Damai

Image
Damai.. Damai... Damai.... Harapan setiap insan Tapi, harapan tetap jadi harapan Kedamaian hanya menjadi angan Yang terbang tanpa pegangan Usah kau pedulikan Tak jua negeri kecil ini penuh kedamaian Namun huru hara yang memenuhi hati setiap insan Kebencian, keirian, bahkan Dengkik kau junjung perdamaian dalam negerimu Hingga Semesta tertawa Kesedihan memenuhi maknanya (Sumber foto: rustuspvka.com)

Kenikmatan

Mampukah kau bunuh ego Pada hati yang keras kepala? Tapi kenapa pula kau harus bersedu sedan? Padahal kau tahu Kau telah memilih sebuah jalan Ah persetan.. Kesenangan pun selalu melampirkan kepedihan Bukankah itu sebuah keindahan? Berjalan beriringan pada satu waktu Yang membuat diri menjadi berantakan Padahal itu sebuah kenikmatan Ah ada yang terlupa BAB di celana pun juga sebuah kenikmatan

Terima Saja

Image
Terik matahari berkolaborasi Dengan kabar yang mengundang emosi Menghancurkan hati Ia memutuskan untuk pergi Banyak praduga yang kian menghampiri Dari negatif hingga positif Mau tak mau kutelan saja Hingga hari menuju senja Kuberjalan mengarah ke peraduan Berharap bertemu arka jingga Dumolid yang paling kusuka Selagi arka menunjukkan batang hidungnya Aku berharap dapat melupakannya Agar tak berulat mata melihatnya (sumber foto: inspirasi.co)

Belum Disahut

Image
Dunia membisu Sudah terlalu lama Manusia tidak alang mendengar Ah.. hal biasa Laut mengatupkan bibirnya dengan gulungan ombak Angin mengalihkan perundingan dengan merayuku, sebal Daun justru jatuh tapai tidak mengacuhkanku Gunung pun malah menyajikan pemandangan para manusia yang menyerupai bakteri Tetap saja aku tak mendapati jawabanku Sebentar, Aku ingat sesuatu Perbentaran ini aku pernah bertanya jawab pada Tuhan Perkara serupa " Bolehkah aku meninggal dalam keadaan berguna? " Tapi tidak berlainan dengan ciptaannya Perkara tersebut masih dalam perawanan Tuhan.  (sumber foto: https://pixabay.com/p-1031060/?no_redirect)