Tugasku Tidak Berat
Tepat pukul 04.00 WIB, telepon gengam Kak Hamdi berbunyi nyaring. Membangunkan Ayah, Ibu, juga aku, tapi tidak dengan sang tuan dari alarm tersebut.
Lantas aku coba bangunkan Kak Hamdi yang masih tertidur menggunakan celana pendek dan telanjang dada, tapi tidak berhasil. Akhirnya, ada alarm alami yang ampuh membangunkannya, yaitu Ibu. Ibu hanya perlu berteriak memanggil namanya, lalu ia terbangun dan berteriak "Iya sudah bangun."
Walau sudah bangun, jelas sekali ia masih mengantuk. Bagaimana tidak? Tugas kuliahnya baru selesai ia kerjakan pukul 02.30 dan sudah harus bangun pukul 04.00 untuk bersiap salat subuh.
"Kenapa kamu liatin kakak begitu? Kakak ganteng ya abis bangun tidur? Haha", godanya. Akupun mengelak, "Idih ganteng apanya, muka kayak pantat panci aja sok ganteng, dasar jomblo. Haha. Eh tapi Kak, kenapa semenjak Kakak kuliah, tugasnya dikerjakan sampai larut malam?" tanyaku ingintahu. Karena bukan hanya sekali ia tidur menjelang subuh.
"Ya namanya juga mahasiswa tugasnya pasti numpuk, tapi tugas ini belum ada apa-apanya dibandingkan mahasiswa jaman dulu. Kamu Bung Hatta? Sebelum ia menjadi wakil presiden pertama Indonesia, dia adalah mahasiswa juga. Kamu tahu apa yang ia perjuangkan selain tugas-tugas kuliah? Ia memperjuangkan sebutan "Indonesia". Nama negara kita.
Pada waktu itu ia sedang menempuh pendidikan di Handelshogeschool Rotterdam, Belanda. Ia dan kawan-kawannya dari Indonesia mendapatkan penentang dari cendekiawan Belanda, termasuk Bapak Hukum Adat Belanda, Prof. Van Vollenhoven. Tetapi Bung Hatta melayani secara tertulis semua argumen penolakam serta sanggahan yang dilontarkan atas sebutan "Indonesia" dengan bahasa Belanda yang teratur dan penalaran akademis yang baik.
Nah, bagi kakak, tugas ini tidak begitu berat. Tugas yang berat itu adalah bagaimana kita sebagai warga negara Indonesia mengharumkan nama Indonesia ini? Ya, sebenarnya mudah saja dengan memulai membuang sampah pada tempatnya pun sudah turut mengharumkan nama Indonesia. Biar tidak banjir dan tugas-tugas Kakak tidak hanyut kebawa banjir", tegas Kak Hamdi menjelaskan.
Subuh ini aku belajar.
Bukan sebuah pelajaran seperti disekolah, tapi aku belajar nilai-nilai penting dari si pengguna celana kolor. Bagaimana seharusnya kita sebagai warga negara? Sudahkah harumkan nama Indonesia dari hal kecil sampai besar? Atau sebaliknya, malah membuat jelek nama Indonesia?
Tapi, sebenarnya tugas Kak Hamdi tidak hanyut semua saat banjir, melainkan aku buat pesawat-pesawatan dan sebagian dijadikan Ibu sebagai alas maupun bungkus gorengan yang dijajakan Ayah selama ini.
Comments
Post a Comment